Kebimbangan

February 10th, 2008 by akuchayanksoulmate

Esoknya,
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, Septi datang ke rumah
pamanku untuk menjemput diriku tentunya. Kami pergi kembali ke kampus
untuk mengembalikan formulirku. Cukup lama mengantri akhirnya aku
telah selesai mengembalikan formulir dan mendapatkan kartu peserta
ujian.

Awalnya
aku berencana untuk mengajaknya berjalan-jalan, tapi lagi-lagi dia
menolak. Alasannya dia ada janji dengan temannya dan dia harus segera
pulang. Tapi dia masih sempat nganterin aku ke warnet lho!

Mungkin
dia pikir Cuma hal itu yang bisa dilakukannya untuk saat itu. Tapi
dari lubuk hatiku, aku masih merasa gak enak, serasa punya hutang
banyak sama dia. Untuk itu aku masih berusaha terus menjaga hubungan
dengannya.

Hampir
setiap hari kita ber-sms ria, bahkan tak jarang dia menelponku.
Seperti saat ada acara di keluarganya. Kebetulan pada saat acara
tersebut aku sempat datang ke rumahnya di pagi hari. Agak sedikit
heran, karena dia seperti acuh tak acuh padaku. Dia malah
meninggalkanku dengan keluarganya yang belum begitu aku kenal. Dia
seperti tidak memperdulikanku saat itu. Oleh karena itu, saat
kakak-kakakku memutuskan untuk pulang berisitirahat dan kembali lagi
sorenya untuk acara syukuran, aku pun memutuskan untuk ikut. Tanpa
pamit dulu kepadanya aku pulang, meskipun di sepanjang jalan perasaan
kecewa begitu berkecamuk dalam hati.

Sampai
di rumah pamanku, tak lama ada telepon masuk dari nomor yang tak
dikenal karena tak tercantum di buku telepon yang ada di ponselku.
Pelan-pelan aku angkat telepon itu, tak lama orang di seberang sana
bicara.

“Halo!
Anti, ini aku Septi,” ujar orang di seberang sana.

“Oh,
Septi aku kira siapa abis nomornya beda sih. Ada apa?” tanyaku.

“Sorry
aku pake nomor kakakku. Kamu lagi dimana?”

“Di
rumah Om Dave, emang kenapa?”

“Eh,
ada siapa di dekat kamu?”

“Ga
ada siapa-siapa. Emang kenapa?” memang kebetulan tak ada
siapa-siapa di dekatku karena semua orang sedang beristirahat di
kamarnya masing-masing.

“Oh,
ga baguslah kalo ada orang kan gak enak. Malu!”

“Hahahahahaha.
Malu? Malu kenapa? Nyantai aja lagi!”

“Eh,
gak ada yang tahu kan kalo aku telepon kamu?”

“Gak.
Emang kenapa sih? Aneh deh!”

“Gak.
Kamu nanti sore datang kan?”

“Gak
tau. Mungkin. Tadi kamu kemana sih?”

“Datang
ya! Tadi aku bantu-bantu di dalam rumah, kan aku laki-laki masa diam
aja di rumah,” jawabannya diplomatis banget, ngebuat aku yang
tadinya mau marah jadi gak jadi.

“Oh,
ya sudah. Tapi gak janji ya!”

“Pokoknya
harus dateng aku tungguin!”

“Yee
maksa!”

“Ya,
udah dulu ya! Nanti ketahuan kakakku. Sampai jumpa Anti!”

“Hahahaha
dasar! Ya udah bubye!” telepon pun terputus.

Tak
lama aku pergi tapi bukan untuk ke rumah Septi melainkan pergi ke
rumah tanteku di tempat lain. Ya, sore itu akhirnya aku tidak pergi
ke rumah Septi seperti rencana awal, tapi malah pergi ke rumah
tanteku karena suatu keperluan. Sepertinya kini giliran Septi yang
kecewa.

“Halo!
Anti ya!?” aku mengangkat teleponku saat aku sedang ada di motor
bersama sepupuku.

“Ada
apa Septi? Maaf ya ga bisa datang!”

“Aku
kira kamu mau datang. Tadi rombongan kakak-kakakmu udah datang ke
rumah aku kira kamu ikut, aku cari-cari kamu tapi gak ada. Kenapa
kamu gak datang?”

“Aduh
maaf Septi. Aku harus pergi ke rumah tanteku. Ada urusan yang harus
aku selesaikan. Maaf banget ya! Lagian tadi waktu aku datang kamu
malah ilang sih!?”

“Padahal
aku mau ketemu kamu. Ya udah deh kamu lagi dimana sekarang?”

“Lagi
di jalan. Duh, maaf banget ya Septi!”

“Oh,
ya sudah kalo gitu. Hati-hati ya di jalan!”

“Iya.
Maaf ya Sep! Jangan marah ya!”

“Gak
kok. Dag Anti!”

“Dag
Septi!”

Dari
nadanya aku sadar sekali kalau Septi sangat kecewa karena
ketidak-hadiranku di acara keluarganya. Itu benar-benar terbukti
dengan isi smsnya di malam hari. Kebetulan setelah acara tersebut dia
meng-sms aku sampai aku beranjak tidur. Salah satu sms-nya berbunyi
demikian.

“Iya
sh acranya emg skses n rmai tp ttp aja ada yg krng yg bkn aq sdh. Ada
yg ga dtg di acra itu”

Aku
sadar banget, yang dimaksud dia dalam sms-nya itu adalah aku. Dia
sedih karena aku gak dateng. Hahahahaha jadi ge-er deh dibilang gitu,
tapi mungkin emang salahku juga. Lantas dengan perasaan bersalah aku
membalasnya demikian.

“Maaf
Sep!mngkn org itu g dtg krn ada suatu alsn yg ngbwt dy g bs dtg.jgn
sdh y!suatu saat km psti bkl ktmu sm dy”

Tanpa
sadar aku telah memberikannya sedikit harapan dan sebuah jurang yang
mulai akan mengubah hidup dan perasaanku. Tiba-tiba tanpa sadar aku
jatuh cinta padanya. Perasaanku mulai goyah dan diam-diam menyimpan
perasaan padanya. Padahal dari awal aku hanya menganggapnya teman dan
sampai perasaan itu muncul aku masih menampiknya, aku masih mendustai
perasaanku sendiri, membohongi diriku sendiri bahwa aku sesungguhnya
telah mencintainya.

Sms
demi sms yang masuk ke dalam ponselku dari dia selalu aku balas.
Begitupun dengannya, meski kadang terlambat tapi dia selalu berusaha
untuk membalasnya, meski kadang gak punya pulsa tapi ada aja yang
bisa dia lakukan untuk membalas sms aku. Hampir setiap pagi dia
mengirimkanku sms selamat pagi dan puisi-puisi cinta yang cukup
romantis entah dengan maksud apa. Sampai pada suatu malam sebuah sms
telah memaksa aku untuk berusaha jujur pada diriku sendiri. Aku
benar-benar terpana dan gak tau harus bilang apa saat membaca sms
itu.

“Kok
km blm mkn sih?mkn dong entar skt lho!aq dsn lg bkr2 ikn sm tmn2
aku,emg knp?km mau?”

“ih,km
kok bkr2 ikn ga ngjk2 knln aq dunx k tmn2 km.iy,aq mw dunx ikn bkrx
kyx enk tuh!hehehehehe”

“bknx
gtu dsn tuh co smua.kl km mau aq suapin dh!hehehe”

“emg
knp klo co smw?emg ga blh tw?emg bs nyuapin aq?aq kn dsni,km dsna”

“bs.skr
kmu pejamkn mta kmu trus byngn aq ada ddpn kmu lg nyuapin kmu.lakuin
ya jgn smp ga”

“hahaha.km
tuh ada2 aja deh!”

“psti
km ga lakuin apa yg aq blng td.pdhl aq mknnya td smbl ngbyngn km
lho!”

Oh,
my God! Aku bener-bener bingung, aku kira dia cuma main-main aja. Aku
kira dia Cuma becanda aja tapi dia jadi ngambek gitu. Apa aku harus
mulai jujur dengan perasaanku? Apa aku memang benar-benar cinta
padanya? Tapi bagaimana dengannya? Apakah dia juga merasakan hal yang
sama denganku? Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia juga
menyayangiku? Dan apa maksud sms-smsnya selama ini? Puisi-puisinya?
Apakah itu sebuah balasan atas perasaan ini? Atau cuma kebetulan
saja?

Aku
benar-benar bimbang. Aku bingung. Aku gak tau bagaimana harus
menyikapi keadaan ini. Aku benar-benar mencintainya. Tapi aku
bimbang.

sepotong siang yang menggugah

February 7th, 2008 by akuchayanksoulmate

Selesai dengan segala urusan daftar-mendaftar, aku segera bergegas dengannya meninggalkan kampus yang kami cita-citakan itu. Aku berencana pergi ke tempat pencetakan foto kilat untuk melengkapi kelengkapan administrasiku untuk mendaftar besok, tentunya diantar dengan Septi. Aku memang tak terlalu banyak tau jalan-jalan di tempat ini apalagi rute-rute angkotnya. Banyak sekali nama-nama jalan dan jalan-jalan yang besar, tapi tak satu pun yang akrab di telingaku. Akhirnya aku diantar ke sebuah daerah yang banyak pertokoannya, salah satu diantara deretan toko tersebut terdapat sebuah toko pencucian dan pencetakan foto yang cukup terkenal, yaitu fuji film.

Dengan menunggu beberapa menit saja, fotoku yang memang sudah berbentuk soft copy langsung tercetak dengan cukup baik. Namun, saat membayar sang kasir ternyata tak punya kembalian. Aku pun harus mencari uang receh untuk menebus foto tersebut, sedangkan aku sendiri tak tahu harus menukarkan uang itu dimana. Ide pun mengalir di otakku. Rencananya aku memang ingin mentraktir Septi makan siang, yang terlihat sangat lelah karena harus mengantarkanku. Perasaanku sangat gak enak, karena aku baru beberapa jam saja mengenal Septi, tapi sudah banyak merepotkannya.

Aku pun berbicara padanya untuk mengajaknya makan siang. Dan sesuai dengan perkiraanku dia menolak ajakanku. Tapi kupikir mungkin dia masih segan karena belum terlalu mengenalku, sehingga ku coba untuk meyakinkannya. Tapi dia tetap menolak. Sampai akhirnya aku mulai kesal, “Jadi lu itu maunya apa sih? Mau makan batu? Gue ajakin makan gak mau, minum gak mau. Apa sih maunya?” pembicaraan yang aku yakin sangat kasar banget, yang pernah keluar dari mulutku untuknya. Tapi dengan kepolosan dan keluguannya dia malah menjawab dengan sabar, “Bukan ka’, bukan begitu. Saya tidak enak saja. Masa baru kenal sudah ditraktir makan!?” itu alasan pertamanya. Akupun tak mau kalah, “Lantas aku apa? Aku baru kenal beberapa jam sama kamu tapi udah banyak ngerepotin kamu. Anterin kesini lah, kesitulah. Hah!? Apa? Udah deh kenapa sih makan aja susah?”

Dia tertunduk, “Itu kan lain. Udah lah.” Aku hanya terdiam, kulihat dia sedikit berpikir melihat raut wajahku yang semakin jutek lantas ia berkata, “Bukannya aku gak mau makan. Tapi aku kan laki-laki, masa dibayarin sama perempuan, kan gak enak,” ujarnya dengan polos. ‘Ya ampun! Jadi itu toh masalahnya! Busyet dah!’ hatiku berucap. “Hahahahaha. Dasar laki-laki aneh!” ujarku tanpa sadar.

“Apa? Aneh? Siapa yang aneh?”
“Kamu. Lagian apa sih bedanya laki-laki yang bayarin sama perempuan yang bayarin kan sama aja!? Gengsi?” Dia hanya terdiam mendengar perkataanku. Panas memang begitu terik siang itu, saat kami sedang berjalan mencari pecahan uang untuk membayar cetakan fotoku itu.

“Duh, aku jadi inget sama teman-temanku yang ada di Jakarta. Mereka tuh gak bakal pernah berpikir dua kali untuk bilang iya kalo soal traktiran. Meskipun Cuma ditraktir minum, gak kenal cewek atau cowok. Ini malah mikir, aneh!” sambungku lagi sambil geleng-geleng kepala.

“Eh, tuh ada KFC! Makan disitu aja yuk!” ajakku.
“Gak ah. Aku gak laper, serius deh!” tolaknya lagi.
“Septi, septi, aku tau kamu tuh capek, laper. Kenapa sih kamu nolak ajakanku terus?”
“Aku gak laper. Beneran deh!”

Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke KFC. Tapi Septi tetap dengan pendiriannya, bahkan masuk ke restoran fast food yang cukup terkenalpun ia enggan. Aku pun membeli dua es krim sundae coklat saja untuk menukar uangku, tak peduli nanti Septi akan menerimanya dengan senang atau tidak, aku tetap membelikannya. Setelah membayar aku keluar dengan membawa dua gelas es krim dan memberikannya satu kepada Septi.

“Kok beli dua?” Tanya Septi saat mengambil satu gelas es krim yang memang kuberikan padanya.

“Kalau orangnya ada sepuluh, ya aku beli sepuluh. Karena orangnya Cuma dua, kamu dan aku, ya udah aku beli dua. Udah yuk kita ambil foto terus pulang!” ajakku.

Aku pun pulang dengannya ke rumah salah satu kerabatku, yang kebetulan ia juga mengenalnya. Tak lupa mengucapkan terimakasih dan membuat janji lagi dengannya untuk mengembalikan formulir esok hari, dan keliatannya dia yang jadi semangat. Agak bingung jadinya. Hehehehehehe.

sebuah awal

February 7th, 2008 by akuchayanksoulmate

Di
pagi yang cerah itu aku menjejakkan kakiku untuk yang kesekian
kalinya ke tanah yang kuanggap sebagai kampung halamanku, Makassar.
Sepertinya tak ada yang tahu tentang kedatanganku hari itu ke
Makassar, bahkan di bandara yang seramai itu pun tak ku jumpai
seorang pun yang ku kenal. Aku pun mendekatkan diri pada sebuah box
telepon yang ada di dekat toilet bandara. Aku mengambil beberapa coin
uang seratus rupiah dan lima ratusan yang ada di dompetku. Ku ambil
telepon selulerku dan kucari nomor telepon-nomor telepon yang mungkin
bisa kuhubungi melalui telepon umum ini, karena ponselku tidak ada
pulsanya.

Awalnya
kucoba menelpon tanteku ke ponsel flexinya, tapi ternyata tanteku
sedang ada di jalan. Sedang mengantarkan adik sepupuku fashion show
disalah satu mal yang ada di sana, sedangkan kakak sepupuku yang
sedang hamil tak bisa menjemputku karena kehamilannya itu. Inginku
menelpon opa, tapi aku tahu opa tak kan mungkin menjemputku. Aku pun
mencoba menelpon ke rumah salah seorang sepupu jauhku. Tapi tak juga
diangkat olehnya.

Aku
agak mulai panik. Karena tak sedikit pun rute angkot yang ku hapal.
Bahkan aku sudah lupa dengan jalan-jalan dan arah jalannya. Untuk
naik taksi aku tak berani, karena takut dibohongi, diajak
berputar-putar sama supir taksi yang iseng, bahkan mungkin saja aku
malah dibawa ke tempat yang bertolak belakang dengan tujuanku,
apalagi mengingat aku adalah seorang wanita. Meskipun  tanteku yang
baik hati itu meyakinkanku untuk menggunakan taksi sebagai sarana
transportasi agar aku bisa tiba dengan selamat dan praktis di rumah
opa atau di rumahnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tidak
menggunakannya. Karena sudah banyak orang yang mengalami nasib buruk.

Untungnya
tak lama bunda menelponku. Bunda pun memberiku petunjuk perjalanan
dari bandara hingga menuju ke rumah opa dengan rute angkot. Bunda
sendiri sudah menghubungi opa agar menjemputku di depan gang
rumahnya. Tak lupa mentransferkanku pulsa, nominal pulsa yang
terbanyak yang pernah aku terima untuk 3 tahun terakhir ini. Dengan
tas-tas, yang tak bisa dibilang ringan, dan beberapa jinjingan, yang
semakin memperberat bawaan ditanganku, aku berjalan dengan
terengah-engah menuju keluar bandara, yang terasa sangat jauh den
berat karena bawaanku dan teriknya matahari Makassar yang lebih terik
daripada matahari di Pantai Ancol.

Tak
mudah berjalan sendirian dari bandara menuju pintu keluar dengan
bawaan sebanyak itu. Di luar sana ternyata ada segerombolan tukang
ojek dan supir-supir taksi yang berusaha menawarkan jasanya. Bahkan
ada beberapa orang yang terus-menerus memaksaku hingga tanpa sadar
aku membentak mereka untuk segera menghentikan langkahnya
mengejar-ngejar aku. Sampai akhirnya aku tiba di temnpat perhentian
angkot. Aku pun menurunkan semua bawaanku dan menantikan angkot yang
harus ku naiki tiba.

Tak
sedikit orang yang aku tanya mengenai jurusan-jurusan angkot supaya
aku bisa sampai di rumah opa, meskipun bunda sudah sangat jelas
menjelaskannya secara terperinci. Turun-naik angkot harus aku lakukan
dengan bawaan-bawaanku yang sangat merepotkan. Ada sedikit sesal
dihatiku, kenapa buku-buku yang kelak tak berguna ini harus ikut
kubawa sebagai penambah beban-bebanku? Tapi aku tetap bersemangat
mengingat tujuanku disana hanya untuk satu hal yaitu kuliah.

Setelah
satu jam dengan perjalanan penuh peluh dan melelahkan, akhirnya aku
tiba di rumah opa. Rumah yang sedang dalam tahap renovasi itu memang
agak sedikit berantakan di bagian depannya tapi kehangatan rumah itu
mengalahkan segala kepenatan yang ada didadaku saat itu. Hanya duduk
sebentar lantas mandi, karena sejujurnya aku belum mandi semenjak
dari Jakarta. Penerbangan di pagi-pagi buta itu memaksaku untuk
bangun lebih awal, tapi tetap saja aku kesiangan bahkan hampir
ketinggalan pesawat.

Selesai
mandi sesuai dengan rencana aku menelpon seorang teman –agak
bingung sebenarnya mau menganggapnya teman karena pada saat itu aku
belum benar-benar mengenalnya –dia seorang pria sebaya denganku,
namanya Septi. Awalnya aku kira dia adalah seorang perempuan tapi
setelah menelponnya aku baru tahu kalau dia adalah seorang pria.
Dengannya aku pergi untuk mendaftar ke perguruan tinggi yang aku
inginkan dan impikan selama ini. Memang bukan perguruan tinggi
sehebat UI, IPB, atau ITB yang mungkin sudah terkenal hingga ke
mancanegara. Bukan juga tempat yang terlalu bergengsi seperti
Trisakti, Tarumanegara, atau mungkin Atmajaya. Tapi itulah cita-cita
dan impianku yang tak jauh berbeda dengan Septian.

Siang
yang terik itu bersamanya dan motor ayahnya Septi, kami pergi menuju
perguruan tinggi tersebut untuk mendaftar tes masuk. Dengan arahannya
yang sudah mendaftar terlebih dahulu aku pergi membeli formulir dan
mengambil formulir tersebut. Dan dia sudah bisa dipastikan selalu
setia mendampingiku. Bahkan kakiku serasa tak bisa melangkah kalau
dia tiba-tiba tak ada dalam penglihatanku. Aku memang buta soal
tempat itu. Tapi aku juga merasakan chemistry yang aku dambakan dalam
tempat itu.

*to be continued*

Pantai, Pantai HoRe!

January 29th, 2008 by akuchayanksoulmate

Beberapa minggu yang lalu aku dan wulan membuat rencana untuk pergi ke ancol. Meskipun agak sedikit ragu, tapi akhirnya hari Senin tanggal 28 dijadikan waktu yang tepat untuk pergi kesana. Awalnya kita berencana untuk bertemu di shelter jati padang, karena kita berniat untuk naik busway, yang menurut aku lebih simpel dan gampang.

Tapi rencana harus berubah karena dihari yang sama ada acara pemakaman mantan presiden Soeharto dan aku agak sedikit takut kalau jalan-jalan bakal macet karena ditutup dan lain sebagainya. Wulan pun menyarankan untuk naik kereta dan oleh karena rencana pertemuan kita pun sedikit berubah. Kita akhirnya janjian di stasiun Pasar Minggu.

Kita naik kereta dari Pasar Minggu sampai di stasiun Kota terus dilanjutkan dengan mikrolet M15a jurusan Kota-Tanjung Priok. Sampailah kami di ancol. Niat kita emang Cuma ke ancol, bukan ke seaworld, gelanggang samudera, apalagi ke Dufan soalnya uang kita emang pas banget. Hehehehe maklumlah masih (baca: baru) jadi mahasiswa jadi uangnya terbatas. Kita pun jalan masuk ke ancol setelah membeli tiket masuk seharga Rp 12.000, 00. Setelah cukup lama berkeliling, kami pun menemukan Pantai. Pantai Seni ancol menjadi persinggahan pertama kami.

Suasana Pantai tersebut gak begitu ramai, tapi juga gak sepi. Mungkin karena sebagian besar pengunjungnya adalah dua sejoli yang sedang asyik bermesraan –bikin sirik deh. Tak jarang kami ditawarkan untuk menyewa perahu beberapa nelayan yang ada disana, tapi karena Wulan takut mabuk laut kami pun menolak. Kita pun pergi menuju sebuah jembatan yang ada disitu. Dari jauh jembatan itu agak ramai karena ada beberapa orang yang berdiri di jembatan yang terbuat dari kayu tersebut. Tapi ternyata jembatan tersebut sudah rusak. Beberapa kayunya patah bahkan copot sehingga ada beberapa bagian dari badan jembatan tersebut yang bolong. Aku sebenarnya agak kurang yakin untuk melewati jembatan tersebut. Tapi Wulan terus memaksa, padahal aku udah teriak-teriak memohon supaya aku dibolehkan untuk tidak melewati jembatan tersebut –sampai-sampai ada orang yang ngetawain aku gara-gara teriak ketakutanku itu. Akhirnya setelah sekian lama berdebat dan Wulan cukup meyakinkan aku pun memberanikan diri melewati jembatan tersebut, tapi tak pernah lepas berpegangan dari Wulan. Hehehe maaf ya Wulan.

 

Idi0tism601_1
 Tak lama perut terasa lapar aplagi ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Panas terik, membuat air mineral 600 mL yang aku bawa pun habis. Kami pun segera mencari tempat makan. Aku dan Wulan sepakat untuk makan di McD yang ada di Pantai –tapi kita ga tau pantai yang mana. Akhirnya aku pun bertanya pada seorang petugas keamanan yang aku temui, kira-kira begini cuplikannya.

Aku (A) : Maaf Pak numpang tanya, McD disebelah mana ya Pak?

Satpam (S) : Jauh Mbak di Pantai Karnaval. Jauh banget.

A : Masa sih Pak?! (ini adalah adegan nyolot hehehe ^^v)

S : Iya Mbak, ikutin aja jalan ini tapi masih jauh banget.

A : Oh, ya udah deh Pak. Makasih ya!

S : Ya, sama-sama.

Kami pun pergi menuju arah yang tadi diberitahukan oleh satpam itu. Dengan rasa setengah tidak percaya dengan ucapan satpam tersebut kalau McD tuh masih jauh banget –sebenarnya siapa sih yang sering nongkrong di Ancol!? Hehehehe.

Belum setengah perjalanan kami melihat ada ayunan dipinggir danau, yang diestimasikan oleh Wulan berair payau. Disana kami bermain-main ayunan malah sempat membuat video. Awalnya agak bingung siapa yang mau merekam karena diantara kita gak ada yang mau untuk berkorban. Akhirnya dengan segala akal dan pikiran terciptalah sebuah ide dan kreasi. Kebetulan di depan ayunan tersebut ada pohon dan ranting-rantingnya gak begitu tinggi, jadilah handphone aku digantung di ranting tersebut setelah sebelumnya melihat bagaimana view yang tercipta dari kamera handphone tersebut dan membuat si handphone menjadi statis karena banyak angin yang menerpanya. Jadilah video berdurasi 58 detik, yang isinya adalah aku dan Wulan yang sedang bermain ayunan. Seru lho! Gak terasa ternyata aku udah bertahun-tahun gak main ayunan lagi. Padahal ayunan adalah mainan favorit aku waktu TK sampai sering berantem sama temen Cuma gara-gara ngerebutin satu ayunan yang enak. Hahahaha.

Idi0tism629edit

Setelah puas bermain ayunan kami melanjutkan perjalanan kami. Perjalanan yang memang sangat jauh dan melelahkan. Tak salah ucapan si satpam itu. McD-nya emang jauh betul. Bagaikan menemukan oasis di padang pasir, begitu kata Wulan saat akhirnya kami menemukan outlet McD. Dengan langkah riang kami memasuki outlet yang gak terlalu besar menurut kami. Di outlet tersebut telah ada 4 orang wanita, yang ternyata warga negara asing, karena mereka tak bisa berbahasa indonesia dengan baik. Kalau dilihat dari perawakannya sepertinya mereka orang China. Mereka datang bersama anaknya yang sempet meluk-meluk kaki aku gitu, terus udahannya malah nangis padahal gak aku apa-apain. Belum sempat kami memesan tiba-tiba “grek!” listrik mati. Astaga!

Kami kira McD memiliki genset atau sejenisnya untuk menyalakan listrik tanpa harus menunggu listrik dari PLN. Ternyata tidak saudara-saudara. Hal itu membuat beberapa mesin tak bisa beroperasi dengan normal, seperti mesin coke-nya. Aku pun mengurungkan niatku untuk memesan PANAS spesial kesukaanku. Sedangkan Wulan cukup puas dengan Beef Burger. Kami memutuskan untuk tetap menunggu di McD karena aku masih kepengen makan ayam goreng McD, setelah menunggu kurang lebih satu jam listrik tak juga menyala. Tiba-tiba muncul sebuah ide konyol setelah sekian lama ngomong ngelantur, mataku terpaku sama tulisan “Delivery Service 14045”. Tak lama akhirnya terciptalah sebuah percakapan antara aku dan seorang customer service McD di telepon menggunakan hp Wulan yang disaksikan oleh Wulan dan seorang pegawai McD.

Customer Service (CS) : Selamat siang dengan X ada yang bisa dibantu.

Aku (A) : Selamat siang Mbak! Eee.. Saya mau order bisa?

CS : sebelumnya sudah pernah order belum?

A : belum tuh Mbak.

CS : kalau gitu Saya data dulu ya! Atas nama siapa?

A : Emm.. Wulan.

CS : bisa diberitahukan nomor teleponnya?

A : kosong dua satu sembilan bla bla bla…

CS : mau diantar kemana?

A : Gini Mbak kita sekarang lagi on the way Mbak, bisa gak Mbak?

CS : Di daerah mana? Trus nanti mau diambil didaerah mana?

A : Saya lagi di daerah Ancol. Sebenernya sih lagi di McD juga, tapi McD-nya mati lampu jadi gak bisa order, bisa gak Mbak?

CS : Duh, maaf kita belum bisa on-line tuh jadi gak bisa!

A : Oh, yaudah deh kalau gitu. Terima kasih ya Mbak!

CS : Ya sama-sama. Selamat siang!

A : Siang.

Nut.. nut.. nut.. teleponnya ku matikan dan lantas kamipun tertawa termasuk si pegawai McD tersebut. Benar-benar hal yang konyol.

Setelah menunggu berjam-jam akhirnya aku memaksakan diri untuk membeli McD dengan sistem satuan. Itulah McD termahal yang pernah aku beli. Dua potong ayam, sebuah nasi ukuran reguler, dan air mineral botol kecil totalnya Rp 26.300, 00 seumur-umur baru kali itu aku beli McD dengan harga diatas 25 ribu bahkan 20 ribu. Ya mau diapakan lagi daripada kelaparan dan gak bisa minum obat, soalnya semua Ancol pun mati listrik gak Cuma McD aja jadi kayaknya percuma mau pergi ke tempat lain pun. Setelah makan kami pun pergi berjalan-jalan lagi disekitaran pantai sambil berfoto-foto tentunya. Panas yang terik tak menyurutkan langkahku untuk menikmati keindahan laut yang sudah tercemar oleh sampah-sampah. Kalau dipikir-pikir masih lebih bersih dan lebih baik Pantai Losari yang ada di Makassar yang sebenarnya Pantai itupun gak luput dari sampah. Secara keseluruhan Pantai di Ancol sedikit mengingatkan aku sama Tanjung Bunga yang ada di Makassar. Ya berhubung keduanya sama-sama laut. Apalagi waktu di Pantai yang ada pasirnya dan bisa berenang. Aku kepengen banget berenang disana, tapi sayang aku gak bawa baju ganti jadi aku Cuma bisa berdiri di tepi pantai menikmati ombak yang manghantarkan sampah ke tepian. Sampai-sampai celana pendek dan jaket yang aku pakai basah karena terjangan ombak ringan tapi cukup membuat aku senang. Aku benar-benar merasakan sebuah kebahagian dari sebuah kerinduan yang akhirnya terobati disana.

Hmmm.. memang sebuah hari yang sangat menyenangkan buatku. Aku benar-benar menikmati perjalanan itu meskipun pulangnya kakiku langsung pegal-pegal dan badanku agak sakit, kepala ku pun pusing. Tapi aku sangat bahagia, sampai-sampai ada rasa ingin meneteskan air mata saking terharunya melihat laut dan tentunya kuasa Tuhan yang telah menciptakan itu semua.
Happy Monday!

2008..i’m coming!!!

December 27th, 2007 by akuchayanksoulmate

gag terasa udh mw abis taun 2007 ini..

hmmm..klo ngereview satu tahun kebelakang ini kayaknya tahun ini emang tahun yang terparah sepanjang kehidupan gw..

mulai dari awal tahun 2007..

hwahahahahaha..klo inget itu gw gak tw harus berbuat apa..

pengen nangis tapi rasanya gag sedih-sedih amat..

pengen ketawa tapi itu juga bukan kebahagiaan sepenuhnya

pengen senyum kok kayaknya berat banget..

lantas itu cuma bisa jadi cerminan hidup..

belum lagi saat gw harus menyelesaikan masa sma gw,,

itu smw gw lewatin bukan tanpa halangan dan kendala..

dr masalah finansial sampai masalah otak dan keberuntungan..

semua harus gw jalanin..

sampai gw terjebak dalam pilihan-pilihan yang sulit

dan yang terparah adalah saat gw harus melakukan itu semua sendiri dan merasa sangat jauh dari Tuhan.

itu saat-saat gw berada dalam titik nol

melakukan hal-hal yang gw sukai tanpa memandang akibat yang bakal gw hadapi, melakukan banyak hal yang gw tw itu salah bahkan gw sangad menyadarinya tapi tetap gw lakukan dengan satu alasan. stres!

tak terhitung sudah berapa kali gw stres di tahun ini.

ini adalah tahun terberat yang pernah gw alami.

tapi ini juga tahun mukzizat.

gw sadar banyak banget kelalaian gw tapi gw masih diberikan semua kebaikan dan anugerah dari-Nya

dan bukan sesuatu hal yang mudah bahkan buat gw ini adalah sesuatu yang mustahil tapi semua itu terjadi dan nyata dalam hidup gw.

meskipun beban-beban itu masih tetap ada

meskipun semua itu masih harus gw lewati di tahun depan

semoga aja tahun 2008 aku bisa menjadi lebih baik lagi..

Tuhan tolong aku!

sebuah prosa bebas lepas

December 12th, 2007 by akuchayanksoulmate

tiba-tiba aku bersedih hati

tiba-tiba aku bahagia

sesaat menangis lantas tertawa

semenit cemberut lalu tersenyum lagi

sewaktu merenung lalu berpikir bahwa semua ini baik-baik saja tapi kembali aku murung

mungkin tingkahku bisa hapuskan segala rasa yang ada dalam jiwa ini.

kadang tertawa terlihat gembira

tapi siapa yang tahu dalam hati ini teriris terasa sakit bahkan mati rasa..

kemarin, ketika tiba-tiba pikiranku melayang ke masa lalu. ku teringat tentang suatu hal yang seharusnya selalu aku ingat sebagai sebuah tanda atau sebuah warning agar aku tetap dalam batas yang harus aku buat sendiri.

setelah aku ingat, aku tiba-tiba kehilangan semua rasa. tidak adil memang. tak adil bagiku dan mungkin bagi "dia" tapi itulah, itulah yang aku rasa. aku harus dan terus harus bisa berpegang dalam prinsip yang pada akhirnya aku buat sendiri setelah mengingat hal itu. aku tak bermaksud mengirimkan dendam pada sang manusia yang telah mengatakan sesuatu hal padaku yang kata-katanya itu aku ingat kemarin. sungguh bukan. tapi lebih pada untuk mem-protect diriku sendiri yang kini bagai diinjak-injak, tak dihargai bahkan mungkin tak dianggapnya.

kini seharusnya aku mulai membatasi diri dengan menutup semua pintu dalam hati, aku merasa menyesak tapi ini sebuah dilemma yang harus aku pilih. yang harus aku jalani. dan aku telah memilih untuk menjalaninya.

kecewa itu memang ada, tapi apakah aku harus terus menelannya begitu saja? tentu tidak. aku ingin merubah semua ini. aku tak ingin terus dirundung rasa kecewa atau bahkan duka dan luka aku hanya ingin cinta.

dengan segenap yang ada dalam diri ini, aku menangis dan tertawa. aku melihat begitu banyak kenangan yang akan terus terkenang. begitu banyak masalah yang tak kunjung selesai.

sungguh mungkin aku tak pernah kan ulangi lagi. karena aku telah kehilangan semua rasa itu, telah kehilangan semua hasrat itu, telah kehilangan segenap semangat yang tlah hilang tenggelam dalam ruang dan waktu kebodohan.

meskipun aku cinta kamu

ngantuk

December 11th, 2007 by akuchayanksoulmate

ngantuk,,

hari ini gw ngantuk bgt..

setelah kemarin smaleman nyariin buku akuntansi stengah mampus..

dan ternyata..ada org iseng yang nyumputin buku berharga gw itu rese!!

dan gw berusaha ngerjain pr akuntansi gw yg segambreng..

tp trnyata rasa kantuk udah keburu menyerang dan gw kalah..

gw tidur

tapi gw gag puas pas bangun pagi gw malah makin ngantuk..

smp akhirnya yg harusnya gw bangun jam setengah 5 malah jadi jam 5 gw kesiangan..

akibatnya gw gag dpt tempat duduk di busway..mana bawaan gw lagi berat-beratnya,,

sampai kampus tangan gw langsung sekarat..

pegel abis..

pas pelajaran akuntansi gw malah jadi tidur..

asli ngantuk bgt..

skr aja gw nulis blog sambil nguap-nguap..

gag kebayang deh nanti sosiologi bakal mimpi kayaknya gw..

huaaaaaa ngantuk bgt dah gw!!!

harapan yang tertuai

December 9th, 2007 by akuchayanksoulmate

Ada

beberapa hal yang pengen banget aku critakan.

Pertama tentang SPMB. Aku SPMB di Makassar karena emang aku kepengen banget kuliah di

sana

. Berbeda dengan teman-temanku dan kebanyakan orang yang kepengen kuliah di tanah Jawa (khususnya

Jakarta

) aku malah lebih kepengen kuliah di

Makassar

, spesifiknya Universitas Hasanuddin (UnHas). Jujur aku bosan banget sama pulau Jawa khususnya Jabodetabek. Apalagi Jakarta yang macet luar biasa dimana-mana meskipun udah ada Busway, yang katanya adalah salah satu solusi permasalahan kemacetan di

Jakarta

, beda banget sama

Makassar

yang gak pernah mengenal traffic jam dan angkutan disana relative murah tarifnya, biaya hidupnya juga. Bukannya membangga-banggakan Makassar tapi menurutku suasana di sana masih lumayan enak dibandingkan Jakarta meskipun ada sebuah resiko, yaitu masalah komunikasi dan budaya. Entah kenapa aku agak sedikit sulit berkomunikasi dengan sebagian besar orang di sana dan ternyata budaya yang sangat jauh berbeda acap kali menyebabkan miss communication saat aku harus berinteraksi dengan mereka. Tapi justru disitulah tantangannya dimana aku harus bisa beradaptasi dengan semua hal itu pilihannya Cuma dua terpengaruh atau mempengaruhi. Namun, sayangnya Tuhan berkehendak lain. Di hari kedua SPMB, saat ke-optimis-an itu dating, dating pula secuil kebodohan dan kecerobohan. Soal ketiga dari belakang, soal IPA terpadu no. 72 kalau tidak salah. Ya soal itu adalah soal yang keramat buatku, bukan soalnya yang berkesan buatku tapi LJK-nya. Gimana tidak, pada nomor itulah LJK ku bolong !@#$%^&*?/=\-+|_’;”:<>.,. Sungguh ketololan yang amat sangat. TOLOL! Padahal waktunya tinggal 15 menit lagi dan aku hanya berdiam menyaksikan kertas yang amat sangat berharga dan menentukan nasib masa depanku kelak ternoda dengan sebuah bolong yang sangat tak diharapkan. Bodohnya aku malah berdoa berharap sebuah keajaiban, sebuah mukzizat supaya aku bisa lulus SPMB, yang sudah dapat dipastikan pada saat itu (secara logis) nggak akan mungkin lulus. Tanpa bolong itu aja aku belum tentu lulus (meskipun optimis banget) apalagi dengan bolong itu. Merupakan sebuah mukzizat yang luar biasa kalau aku bisa lulus. LUAR BIASA. Tak usah ditanya bagaimana resultnya, yang pasti pulang SPMB hari kedua badan aku lemas lepas bebas. Tapi aku masih diam tak berani mengungkap apapun, masih sangat berharap pada sebuah harapan kosong, harapan yang jelas nggak ada. KOSONG. Yang terbayang adalah wajah Bunda yang penuh harapan padaku. Wajah Ayah yang pasti selalu tersenyum apapun yang terjadi, senyum bahagia dan puas kalau aku berhasil atau senyum dan tawa cemooh apabila aku GATOT (Gagal Total). Dan yang paling menakutkan lagi adalah laporan pertanggung jawabanku terhadap mereka atas uang yang telah kuhabiskan selama di Makassar dan result SPMB sebagai balasan atas itu semua, meskipun sejujurnya mereka tak pernah mengatakan hal itu, tapi dengan penuh kesadaran aku mengerti apa mau mereka. Apalagi saat aku memutuskan melepas PMDK IPB. Jelas saat pengumuman dan Bunda tahu bahwa aku tidak lulus, Bunda sangat kecewa sekali. Sangat terlihat di raut wajahnya beliau kecewa bukannya hanya karena uang yang telah terbuang sia-sia tapi mau jadi apa aku kelak. Itu yang menjadi beban pikiran Bunda. Meskipun aku berusaha menghibur diri dengan mengikuti USM STAN, yang lebih kecil kesempatannya apalagi STAN sangat mengenal GENDER dan itu adalah sebuah kendala untuk wanita seperti aku. Yang menjadi Bunda kecewa adalah karena aku sudah melepaskan PMDK IPB sedangkan aku tidak menunjukkan rasa tanggung jawab atas keputusanku itu. Sebenarnya Bunda kurang setuju saat aku memutuskan untuk melepas PMDK IPB karena menurut Bunda gak ada salahnya aku untuk mencoba kuliah di

sana

ya setidaknya untuk peganganlah kalau-kalau tidak lulus SPMB, itu menurut Bunda. Tapi buatku akan terasa semakin sia-sia kalau aku harus memaksakan diri masuk di fakultas yang samasekali tidak aku minati. Jadi ku putuskan tidak aku ambil meskipun tak mudah mengambil keputusan itu karena dampaknya sangat luas, khusunya buat almamaterku. Tapi maaf seribu maaf dengan segala keegoisan ini, aku memilih untuk meninggalkannya. Pada awalnya ketidak lulusanku di SPMB ku anggap sebagai karma karena telah melepas IPB begitu saja atau mencampakkannya. Duh maaf banget ya! Tapi jujur gak pernah ada niat itu, kalau saja aku diterima dengan baik di Agribisnis. Toh tak ada masalah dengan nilaiku, yang menjadi masalah hanya karena Agribisnis ku taruh dipilihan kedua. Entah aturan darimana aku tak pernah menemukan aturan itu didalam lembar formulir ataupun lembar petunjuk pengisian formulir bahkan dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pihak IPB pun tak ada pernah tertulis maupun terlisan aturan itu. Sungguh aku kecewa. Tapi sudahlah Tuhan telah memberikan tempat yang terbaik buatku. Setelah sekian lama berjuang, dan telah sedikit berputus asa. Putus asa? Ya aku sempat putus asa. Tak terpikir rencana apalagi yang harus aku lakukan untuk mengisi kekosonganku selama setahun kedepan. Sempat terlintas keinginan untuk bekerja, tapi bekerja dimana? Atau mendesak ayahku memasukkan ku pada sebuah PTS ternama di

Jakarta

tapi tetap pada minatku di Kedokteran, namun ayahku berisikukuh menegaskan bahwa kuotanya telah terpakai oleh

Om

ku dan seorang anak relasinya (sungguh aku tak rela saat itu) dan ayahku tak ingin mengusahakanku supaya aku bisa kuliah disana. Meskipun masih terbayang dalam ingatanku kala ku kecil tiap kali aku ikut bersama ayah ke PTS tersebut untuk melihat ayah mengajar (dahulu ayahku dosen), ayah selalu membangga-banggakan PTS tersebut dan berharap aku bisa kuliah disana, namun saat aku sudah punya keingin ayahku malah menolaknya mentah-mentah. Kecewa sangat hatiku. Namun dalam kekecewaan itu tiba-tiba aku teringat akan sebuah tawaran yang pernah dilontarkan oleh seorang teman ayahku. Beliau menawarkanku untuk kuliah ditempat dia bekerja, kebetulan Perguruan Tinggi tersebut sedang menawarkan beasiswa dan dia menganggap aku bisa untuk mengikuti tes tersebut. Jujur awalnya aku menolak karena jurusan yang ditawarkan adalah jurusan yang paling aku hindari, yaitu EKONOMI. Aku tidak mau mengikuti jejak Ayah menjadi Sarjana Ekonomi sebenarnya. Karena dari jaman SD aku tuh paling gak bisa pelajaran IPS sampai SMA. Aku masuk IPA bukan karena pinter tapi karena nilai IPS ku jeblok semua. Aku jadi inget sama guru sejarahku, aku selalu jadi langganan anggota Her tiap kali abis ulangan sampai-sampai aku harus ke rumahnya untuk meng-her nilai ulanganku yang gak pernah lebih dari 6,5, nilai SKBM yang cukup rendah yang telah ditentukan dengan sangat bijaksana oleh guru sejarahku tersebut, dan dia benar-benar mengenaliku bukan karena pinter tapi saking bodohnya aku dalam pelajar sejarah, yang menurutku gak penting untuk dipelajari (mohon maaf ini adalah pemikiran aku yang harus disalahkan karena ini adalah kebodohan. Hahahahaha). Akhirnya aku pun meminta ayahku untuk menanyakan tawaran temannya itu, dengan sedikit rasa malu karena harus menarik kata-kataku lagi, apakah masih ada atau tidak, karena tinggal itulah satu-satunya harapanku. Hingga pada suatu hari ayahku memberikan kabar baik, bahwa pandaftaran masih dibuka sampai hari Senin (ayah berkata di hari Jum’at, sedangkan Sabtu dan Minggu kantornya tutup). Senin pagi aku langsung pergi menuju kantor sekertariat kampus tersebut. Semua persyaratan administrasi (yang sebenernya aku gak tau syaratnya apa aja soalnya aku gak pernah liat brosurnnya atau pengumuman resminya) aku bawa. Mulai dari ijazah sampai akte kelahiran aku bawa. Aku pun lolos persyaratan administrasi dan diminta mengikuti tes di hari yang akan ditentukan kemudian. Jujur saja nyaliku semakin ciut saat melihat syarat resminya, yaitu harus punya TOEFL minimum 500, sedangkan tes TOEFL aja aku belum pernah. Dan aku sangat yakin TOEFL ku masih jauh dari 500. tapi akupun tak sebodoh itu, kucoba pelajari strateginya dengan melihat beberapa kelemahan. Saat mendaftar, aku sempat bertanya pada seorang mbak yang ada di front office tentang tes dan dia berkata, “Tesnya Cuma matematika, bahasa inggris dan psikotes. Tapi prioritasnya ada di matematika. Jadi kalau bisa nilai matematikanya harus tinggi.” Aku pun memperjelas pernyataan tersebut, “Bahasa Inggrisnya gimana?” “Kalau bahasa

kan

bisa karena biasa. Pokoknya matematikanya aja deh.” Ya penekanan memang pada matematika. Ya udah aku putuskan untuk mempelajari matematika saja dan pasrah dengan Bahasa Inggris, meskipun ada aturan tertulisnya bahwa TOEFL minimum adalah 500. Saat tes, dari 80 soal matematika yang ada, yang benar-benar kujawab dengan perhitungan Cuma 45 sisanya ngasal soalnya waktunya gak cukup, Bahasa Inggris ngasal abis, kalau Psikotes sih pasrah abis. Tapi anehnya aku lulus. Bahkan nilai matematika ku lumayan bagus diatas 80 katanya, cuma Bahasa Inggrisnya aja yang jelek, itulah penyebab aku mendapatkan beasiswa namun tak mendapatkan uang saku 1 juta/bulan. Tapi aku cukup bersyukur, akhirnya aku bisa sedikit membuktikan ke Bunda kalau pilihanku tidak salah, keputusanku ada hikmahnya. Thanks God! Thank You! Aku benar-benar bersyukur dan gembira sekali saat aku dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa di Bakrie School of Management untuk Jurusan Akuntansi meskipun semua itu juga merupakan beban. Beban yang ada sekarang adalah bagaimana mempertahankan itu semua dengan IPK minimum 3,00. Tolong doakan ya supaya aku tetap bisa mempertahankannya atau lulus SPMB 2008! Ya aku masih menyimpan sebuah harapan menjadi seorang dokter dari almamater jaket merah. JAKET MERAH milik UNHAS. Cuma itu keinginanku dan semoga dapat terwujud. Amin.

sebuah cinta

December 3rd, 2007 by akuchayanksoulmate

sebuah cinta ini ada hanya untukmu

kala kau tak menatap ku lagi

saat kau membuangku

bahkan waktu kau melupakanku

sebuah cinta ini tetap kan ada

mengisi ruang kosong di hatiku

mengingat setiap jejak langkah bersamamu

bahkan bayang-bayang hadirmu disisiku

mungkin kau tak pernah mengerti

atau kau tak pernah menyadari

bahwa cinta yang datang ini tulus dari hati

bukan perkara omong kosong

apalagi bualan yang membuat aku seringkali kehilangan akal sehat

karena aku benar-benar mencintaimu

dan kau harus tahu bahkan mengerti tentang rasa ini

meskipun aku tahu

semua ini hanya sebuah impian

tapi mungkinkah kebersamaan itu kan terwujud???

*saat aku cemburu

happy

December 2nd, 2007 by akuchayanksoulmate

cuma mw bilang klo gw seneng..
akhirnya semuanya bisa clear..
thanks ya!!
yg udh pd mw bantuin gw dan dengerin keluh-kesah gw..