sepotong siang yang menggugah
Selesai dengan segala urusan daftar-mendaftar, aku segera bergegas dengannya meninggalkan kampus yang kami cita-citakan itu. Aku berencana pergi ke tempat pencetakan foto kilat untuk melengkapi kelengkapan administrasiku untuk mendaftar besok, tentunya diantar dengan Septi. Aku memang tak terlalu banyak tau jalan-jalan di tempat ini apalagi rute-rute angkotnya. Banyak sekali nama-nama jalan dan jalan-jalan yang besar, tapi tak satu pun yang akrab di telingaku. Akhirnya aku diantar ke sebuah daerah yang banyak pertokoannya, salah satu diantara deretan toko tersebut terdapat sebuah toko pencucian dan pencetakan foto yang cukup terkenal, yaitu fuji film.
Dengan menunggu beberapa menit saja, fotoku yang memang sudah berbentuk soft copy langsung tercetak dengan cukup baik. Namun, saat membayar sang kasir ternyata tak punya kembalian. Aku pun harus mencari uang receh untuk menebus foto tersebut, sedangkan aku sendiri tak tahu harus menukarkan uang itu dimana. Ide pun mengalir di otakku. Rencananya aku memang ingin mentraktir Septi makan siang, yang terlihat sangat lelah karena harus mengantarkanku. Perasaanku sangat gak enak, karena aku baru beberapa jam saja mengenal Septi, tapi sudah banyak merepotkannya.
Aku pun berbicara padanya untuk mengajaknya makan siang. Dan sesuai dengan perkiraanku dia menolak ajakanku. Tapi kupikir mungkin dia masih segan karena belum terlalu mengenalku, sehingga ku coba untuk meyakinkannya. Tapi dia tetap menolak. Sampai akhirnya aku mulai kesal, “Jadi lu itu maunya apa sih? Mau makan batu? Gue ajakin makan gak mau, minum gak mau. Apa sih maunya?” pembicaraan yang aku yakin sangat kasar banget, yang pernah keluar dari mulutku untuknya. Tapi dengan kepolosan dan keluguannya dia malah menjawab dengan sabar, “Bukan ka’, bukan begitu. Saya tidak enak saja. Masa baru kenal sudah ditraktir makan!?” itu alasan pertamanya. Akupun tak mau kalah, “Lantas aku apa? Aku baru kenal beberapa jam sama kamu tapi udah banyak ngerepotin kamu. Anterin kesini lah, kesitulah. Hah!? Apa? Udah deh kenapa sih makan aja susah?”
Dia tertunduk, “Itu kan lain. Udah lah.” Aku hanya terdiam, kulihat dia sedikit berpikir melihat raut wajahku yang semakin jutek lantas ia berkata, “Bukannya aku gak mau makan. Tapi aku kan laki-laki, masa dibayarin sama perempuan, kan gak enak,” ujarnya dengan polos. ‘Ya ampun! Jadi itu toh masalahnya! Busyet dah!’ hatiku berucap. “Hahahahaha. Dasar laki-laki aneh!” ujarku tanpa sadar.
“Apa? Aneh? Siapa yang aneh?”
“Kamu. Lagian apa sih bedanya laki-laki yang bayarin sama perempuan yang bayarin kan sama aja!? Gengsi?” Dia hanya terdiam mendengar perkataanku. Panas memang begitu terik siang itu, saat kami sedang berjalan mencari pecahan uang untuk membayar cetakan fotoku itu.
“Duh, aku jadi inget sama teman-temanku yang ada di Jakarta. Mereka tuh gak bakal pernah berpikir dua kali untuk bilang iya kalo soal traktiran. Meskipun Cuma ditraktir minum, gak kenal cewek atau cowok. Ini malah mikir, aneh!” sambungku lagi sambil geleng-geleng kepala.
“Eh, tuh ada KFC! Makan disitu aja yuk!” ajakku.
“Gak ah. Aku gak laper, serius deh!” tolaknya lagi.
“Septi, septi, aku tau kamu tuh capek, laper. Kenapa sih kamu nolak ajakanku terus?”
“Aku gak laper. Beneran deh!”
Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke KFC. Tapi Septi tetap dengan pendiriannya, bahkan masuk ke restoran fast food yang cukup terkenalpun ia enggan. Aku pun membeli dua es krim sundae coklat saja untuk menukar uangku, tak peduli nanti Septi akan menerimanya dengan senang atau tidak, aku tetap membelikannya. Setelah membayar aku keluar dengan membawa dua gelas es krim dan memberikannya satu kepada Septi.
“Kok beli dua?” Tanya Septi saat mengambil satu gelas es krim yang memang kuberikan padanya.
“Kalau orangnya ada sepuluh, ya aku beli sepuluh. Karena orangnya Cuma dua, kamu dan aku, ya udah aku beli dua. Udah yuk kita ambil foto terus pulang!” ajakku.
Aku pun pulang dengannya ke rumah salah satu kerabatku, yang kebetulan ia juga mengenalnya. Tak lupa mengucapkan terimakasih dan membuat janji lagi dengannya untuk mengembalikan formulir esok hari, dan keliatannya dia yang jadi semangat. Agak bingung jadinya. Hehehehehehe.