sebuah awal

Di
pagi yang cerah itu aku menjejakkan kakiku untuk yang kesekian
kalinya ke tanah yang kuanggap sebagai kampung halamanku, Makassar.
Sepertinya tak ada yang tahu tentang kedatanganku hari itu ke
Makassar, bahkan di bandara yang seramai itu pun tak ku jumpai
seorang pun yang ku kenal. Aku pun mendekatkan diri pada sebuah box
telepon yang ada di dekat toilet bandara. Aku mengambil beberapa coin
uang seratus rupiah dan lima ratusan yang ada di dompetku. Ku ambil
telepon selulerku dan kucari nomor telepon-nomor telepon yang mungkin
bisa kuhubungi melalui telepon umum ini, karena ponselku tidak ada
pulsanya.

Awalnya
kucoba menelpon tanteku ke ponsel flexinya, tapi ternyata tanteku
sedang ada di jalan. Sedang mengantarkan adik sepupuku fashion show
disalah satu mal yang ada di sana, sedangkan kakak sepupuku yang
sedang hamil tak bisa menjemputku karena kehamilannya itu. Inginku
menelpon opa, tapi aku tahu opa tak kan mungkin menjemputku. Aku pun
mencoba menelpon ke rumah salah seorang sepupu jauhku. Tapi tak juga
diangkat olehnya.

Aku
agak mulai panik. Karena tak sedikit pun rute angkot yang ku hapal.
Bahkan aku sudah lupa dengan jalan-jalan dan arah jalannya. Untuk
naik taksi aku tak berani, karena takut dibohongi, diajak
berputar-putar sama supir taksi yang iseng, bahkan mungkin saja aku
malah dibawa ke tempat yang bertolak belakang dengan tujuanku,
apalagi mengingat aku adalah seorang wanita. Meskipun  tanteku yang
baik hati itu meyakinkanku untuk menggunakan taksi sebagai sarana
transportasi agar aku bisa tiba dengan selamat dan praktis di rumah
opa atau di rumahnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tidak
menggunakannya. Karena sudah banyak orang yang mengalami nasib buruk.

Untungnya
tak lama bunda menelponku. Bunda pun memberiku petunjuk perjalanan
dari bandara hingga menuju ke rumah opa dengan rute angkot. Bunda
sendiri sudah menghubungi opa agar menjemputku di depan gang
rumahnya. Tak lupa mentransferkanku pulsa, nominal pulsa yang
terbanyak yang pernah aku terima untuk 3 tahun terakhir ini. Dengan
tas-tas, yang tak bisa dibilang ringan, dan beberapa jinjingan, yang
semakin memperberat bawaan ditanganku, aku berjalan dengan
terengah-engah menuju keluar bandara, yang terasa sangat jauh den
berat karena bawaanku dan teriknya matahari Makassar yang lebih terik
daripada matahari di Pantai Ancol.

Tak
mudah berjalan sendirian dari bandara menuju pintu keluar dengan
bawaan sebanyak itu. Di luar sana ternyata ada segerombolan tukang
ojek dan supir-supir taksi yang berusaha menawarkan jasanya. Bahkan
ada beberapa orang yang terus-menerus memaksaku hingga tanpa sadar
aku membentak mereka untuk segera menghentikan langkahnya
mengejar-ngejar aku. Sampai akhirnya aku tiba di temnpat perhentian
angkot. Aku pun menurunkan semua bawaanku dan menantikan angkot yang
harus ku naiki tiba.

Tak
sedikit orang yang aku tanya mengenai jurusan-jurusan angkot supaya
aku bisa sampai di rumah opa, meskipun bunda sudah sangat jelas
menjelaskannya secara terperinci. Turun-naik angkot harus aku lakukan
dengan bawaan-bawaanku yang sangat merepotkan. Ada sedikit sesal
dihatiku, kenapa buku-buku yang kelak tak berguna ini harus ikut
kubawa sebagai penambah beban-bebanku? Tapi aku tetap bersemangat
mengingat tujuanku disana hanya untuk satu hal yaitu kuliah.

Setelah
satu jam dengan perjalanan penuh peluh dan melelahkan, akhirnya aku
tiba di rumah opa. Rumah yang sedang dalam tahap renovasi itu memang
agak sedikit berantakan di bagian depannya tapi kehangatan rumah itu
mengalahkan segala kepenatan yang ada didadaku saat itu. Hanya duduk
sebentar lantas mandi, karena sejujurnya aku belum mandi semenjak
dari Jakarta. Penerbangan di pagi-pagi buta itu memaksaku untuk
bangun lebih awal, tapi tetap saja aku kesiangan bahkan hampir
ketinggalan pesawat.

Selesai
mandi sesuai dengan rencana aku menelpon seorang teman –agak
bingung sebenarnya mau menganggapnya teman karena pada saat itu aku
belum benar-benar mengenalnya –dia seorang pria sebaya denganku,
namanya Septi. Awalnya aku kira dia adalah seorang perempuan tapi
setelah menelponnya aku baru tahu kalau dia adalah seorang pria.
Dengannya aku pergi untuk mendaftar ke perguruan tinggi yang aku
inginkan dan impikan selama ini. Memang bukan perguruan tinggi
sehebat UI, IPB, atau ITB yang mungkin sudah terkenal hingga ke
mancanegara. Bukan juga tempat yang terlalu bergengsi seperti
Trisakti, Tarumanegara, atau mungkin Atmajaya. Tapi itulah cita-cita
dan impianku yang tak jauh berbeda dengan Septian.

Siang
yang terik itu bersamanya dan motor ayahnya Septi, kami pergi menuju
perguruan tinggi tersebut untuk mendaftar tes masuk. Dengan arahannya
yang sudah mendaftar terlebih dahulu aku pergi membeli formulir dan
mengambil formulir tersebut. Dan dia sudah bisa dipastikan selalu
setia mendampingiku. Bahkan kakiku serasa tak bisa melangkah kalau
dia tiba-tiba tak ada dalam penglihatanku. Aku memang buta soal
tempat itu. Tapi aku juga merasakan chemistry yang aku dambakan dalam
tempat itu.

*to be continued*

Leave a Reply