harapan yang tertuai
Ada beberapa hal yang pengen banget aku critakan.
Pertama tentang SPMB. Aku SPMB di Makassar karena emang aku kepengen banget kuliah di
sana . Berbeda dengan teman-temanku dan kebanyakan orang yang kepengen kuliah di tanah Jawa (khususnya
Jakarta ) aku malah lebih kepengen kuliah di
Makassar , spesifiknya Universitas Hasanuddin (UnHas). Jujur aku bosan banget sama pulau Jawa khususnya Jabodetabek. Apalagi Jakarta yang macet luar biasa dimana-mana meskipun udah ada Busway, yang katanya adalah salah satu solusi permasalahan kemacetan di
Jakarta , beda banget sama
Makassar yang gak pernah mengenal traffic jam dan angkutan disana relative murah tarifnya, biaya hidupnya juga. Bukannya membangga-banggakan Makassar tapi menurutku suasana di sana masih lumayan enak dibandingkan Jakarta meskipun ada sebuah resiko, yaitu masalah komunikasi dan budaya. Entah kenapa aku agak sedikit sulit berkomunikasi dengan sebagian besar orang di sana dan ternyata budaya yang sangat jauh berbeda acap kali menyebabkan miss communication saat aku harus berinteraksi dengan mereka. Tapi justru disitulah tantangannya dimana aku harus bisa beradaptasi dengan semua hal itu pilihannya Cuma dua terpengaruh atau mempengaruhi. Namun, sayangnya Tuhan berkehendak lain. Di hari kedua SPMB, saat ke-optimis-an itu dating, dating pula secuil kebodohan dan kecerobohan. Soal ketiga dari belakang, soal IPA terpadu no. 72 kalau tidak salah. Ya soal itu adalah soal yang keramat buatku, bukan soalnya yang berkesan buatku tapi LJK-nya. Gimana tidak, pada nomor itulah LJK ku bolong !@#$%^&*?/=\-+|_’;”:<>.,. Sungguh ketololan yang amat sangat. TOLOL! Padahal waktunya tinggal 15 menit lagi dan aku hanya berdiam menyaksikan kertas yang amat sangat berharga dan menentukan nasib masa depanku kelak ternoda dengan sebuah bolong yang sangat tak diharapkan. Bodohnya aku malah berdoa berharap sebuah keajaiban, sebuah mukzizat supaya aku bisa lulus SPMB, yang sudah dapat dipastikan pada saat itu (secara logis) nggak akan mungkin lulus. Tanpa bolong itu aja aku belum tentu lulus (meskipun optimis banget) apalagi dengan bolong itu. Merupakan sebuah mukzizat yang luar biasa kalau aku bisa lulus. LUAR BIASA. Tak usah ditanya bagaimana resultnya, yang pasti pulang SPMB hari kedua badan aku lemas lepas bebas. Tapi aku masih diam tak berani mengungkap apapun, masih sangat berharap pada sebuah harapan kosong, harapan yang jelas nggak ada. KOSONG. Yang terbayang adalah wajah Bunda yang penuh harapan padaku. Wajah Ayah yang pasti selalu tersenyum apapun yang terjadi, senyum bahagia dan puas kalau aku berhasil atau senyum dan tawa cemooh apabila aku GATOT (Gagal Total). Dan yang paling menakutkan lagi adalah laporan pertanggung jawabanku terhadap mereka atas uang yang telah kuhabiskan selama di Makassar dan result SPMB sebagai balasan atas itu semua, meskipun sejujurnya mereka tak pernah mengatakan hal itu, tapi dengan penuh kesadaran aku mengerti apa mau mereka. Apalagi saat aku memutuskan melepas PMDK IPB. Jelas saat pengumuman dan Bunda tahu bahwa aku tidak lulus, Bunda sangat kecewa sekali. Sangat terlihat di raut wajahnya beliau kecewa bukannya hanya karena uang yang telah terbuang sia-sia tapi mau jadi apa aku kelak. Itu yang menjadi beban pikiran Bunda. Meskipun aku berusaha menghibur diri dengan mengikuti USM STAN, yang lebih kecil kesempatannya apalagi STAN sangat mengenal GENDER dan itu adalah sebuah kendala untuk wanita seperti aku. Yang menjadi Bunda kecewa adalah karena aku sudah melepaskan PMDK IPB sedangkan aku tidak menunjukkan rasa tanggung jawab atas keputusanku itu. Sebenarnya Bunda kurang setuju saat aku memutuskan untuk melepas PMDK IPB karena menurut Bunda gak ada salahnya aku untuk mencoba kuliah di
sana ya setidaknya untuk peganganlah kalau-kalau tidak lulus SPMB, itu menurut Bunda. Tapi buatku akan terasa semakin sia-sia kalau aku harus memaksakan diri masuk di fakultas yang samasekali tidak aku minati. Jadi ku putuskan tidak aku ambil meskipun tak mudah mengambil keputusan itu karena dampaknya sangat luas, khusunya buat almamaterku. Tapi maaf seribu maaf dengan segala keegoisan ini, aku memilih untuk meninggalkannya. Pada awalnya ketidak lulusanku di SPMB ku anggap sebagai karma karena telah melepas IPB begitu saja atau mencampakkannya. Duh maaf banget ya! Tapi jujur gak pernah ada niat itu, kalau saja aku diterima dengan baik di Agribisnis. Toh tak ada masalah dengan nilaiku, yang menjadi masalah hanya karena Agribisnis ku taruh dipilihan kedua. Entah aturan darimana aku tak pernah menemukan aturan itu didalam lembar formulir ataupun lembar petunjuk pengisian formulir bahkan dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pihak IPB pun tak ada pernah tertulis maupun terlisan aturan itu. Sungguh aku kecewa. Tapi sudahlah Tuhan telah memberikan tempat yang terbaik buatku. Setelah sekian lama berjuang, dan telah sedikit berputus asa. Putus asa? Ya aku sempat putus asa. Tak terpikir rencana apalagi yang harus aku lakukan untuk mengisi kekosonganku selama setahun kedepan. Sempat terlintas keinginan untuk bekerja, tapi bekerja dimana? Atau mendesak ayahku memasukkan ku pada sebuah PTS ternama di
Jakarta tapi tetap pada minatku di Kedokteran, namun ayahku berisikukuh menegaskan bahwa kuotanya telah terpakai oleh
Om ku dan seorang anak relasinya (sungguh aku tak rela saat itu) dan ayahku tak ingin mengusahakanku supaya aku bisa kuliah disana. Meskipun masih terbayang dalam ingatanku kala ku kecil tiap kali aku ikut bersama ayah ke PTS tersebut untuk melihat ayah mengajar (dahulu ayahku dosen), ayah selalu membangga-banggakan PTS tersebut dan berharap aku bisa kuliah disana, namun saat aku sudah punya keingin ayahku malah menolaknya mentah-mentah. Kecewa sangat hatiku. Namun dalam kekecewaan itu tiba-tiba aku teringat akan sebuah tawaran yang pernah dilontarkan oleh seorang teman ayahku. Beliau menawarkanku untuk kuliah ditempat dia bekerja, kebetulan Perguruan Tinggi tersebut sedang menawarkan beasiswa dan dia menganggap aku bisa untuk mengikuti tes tersebut. Jujur awalnya aku menolak karena jurusan yang ditawarkan adalah jurusan yang paling aku hindari, yaitu EKONOMI. Aku tidak mau mengikuti jejak Ayah menjadi Sarjana Ekonomi sebenarnya. Karena dari jaman SD aku tuh paling gak bisa pelajaran IPS sampai SMA. Aku masuk IPA bukan karena pinter tapi karena nilai IPS ku jeblok semua. Aku jadi inget sama guru sejarahku, aku selalu jadi langganan anggota Her tiap kali abis ulangan sampai-sampai aku harus ke rumahnya untuk meng-her nilai ulanganku yang gak pernah lebih dari 6,5, nilai SKBM yang cukup rendah yang telah ditentukan dengan sangat bijaksana oleh guru sejarahku tersebut, dan dia benar-benar mengenaliku bukan karena pinter tapi saking bodohnya aku dalam pelajar sejarah, yang menurutku gak penting untuk dipelajari (mohon maaf ini adalah pemikiran aku yang harus disalahkan karena ini adalah kebodohan. Hahahahaha). Akhirnya aku pun meminta ayahku untuk menanyakan tawaran temannya itu, dengan sedikit rasa malu karena harus menarik kata-kataku lagi, apakah masih ada atau tidak, karena tinggal itulah satu-satunya harapanku. Hingga pada suatu hari ayahku memberikan kabar baik, bahwa pandaftaran masih dibuka sampai hari Senin (ayah berkata di hari Jum’at, sedangkan Sabtu dan Minggu kantornya tutup). Senin pagi aku langsung pergi menuju kantor sekertariat kampus tersebut. Semua persyaratan administrasi (yang sebenernya aku gak tau syaratnya apa aja soalnya aku gak pernah liat brosurnnya atau pengumuman resminya) aku bawa. Mulai dari ijazah sampai akte kelahiran aku bawa. Aku pun lolos persyaratan administrasi dan diminta mengikuti tes di hari yang akan ditentukan kemudian. Jujur saja nyaliku semakin ciut saat melihat syarat resminya, yaitu harus punya TOEFL minimum 500, sedangkan tes TOEFL aja aku belum pernah. Dan aku sangat yakin TOEFL ku masih jauh dari 500. tapi akupun tak sebodoh itu, kucoba pelajari strateginya dengan melihat beberapa kelemahan. Saat mendaftar, aku sempat bertanya pada seorang mbak yang ada di front office tentang tes dan dia berkata, “Tesnya Cuma matematika, bahasa inggris dan psikotes. Tapi prioritasnya ada di matematika. Jadi kalau bisa nilai matematikanya harus tinggi.” Aku pun memperjelas pernyataan tersebut, “Bahasa Inggrisnya gimana?” “Kalau bahasa
kan bisa karena biasa. Pokoknya matematikanya aja deh.” Ya penekanan memang pada matematika. Ya udah aku putuskan untuk mempelajari matematika saja dan pasrah dengan Bahasa Inggris, meskipun ada aturan tertulisnya bahwa TOEFL minimum adalah 500. Saat tes, dari 80 soal matematika yang ada, yang benar-benar kujawab dengan perhitungan Cuma 45 sisanya ngasal soalnya waktunya gak cukup, Bahasa Inggris ngasal abis, kalau Psikotes sih pasrah abis. Tapi anehnya aku lulus. Bahkan nilai matematika ku lumayan bagus diatas 80 katanya, cuma Bahasa Inggrisnya aja yang jelek, itulah penyebab aku mendapatkan beasiswa namun tak mendapatkan uang saku 1 juta/bulan. Tapi aku cukup bersyukur, akhirnya aku bisa sedikit membuktikan ke Bunda kalau pilihanku tidak salah, keputusanku ada hikmahnya. Thanks God! Thank You! Aku benar-benar bersyukur dan gembira sekali saat aku dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa di Bakrie School of Management untuk Jurusan Akuntansi meskipun semua itu juga merupakan beban. Beban yang ada sekarang adalah bagaimana mempertahankan itu semua dengan IPK minimum 3,00. Tolong doakan ya supaya aku tetap bisa mempertahankannya atau lulus SPMB 2008! Ya aku masih menyimpan sebuah harapan menjadi seorang dokter dari almamater jaket merah. JAKET MERAH milik UNHAS. Cuma itu keinginanku dan semoga dapat terwujud. Amin.