SeKeLumiT ciNta

"krek"
mobil berhenti. aku masih terdiam di dalam mobil Daihatsu Taruna.

"Ayo turun!" ajak Bunda.
Dengan gontai aku berdiri lalu keluar dari mobil.

Seperti baru kemarin aku ke sini. Meski aku sadar itu adalah enam tahun yang lalu. Bukan waktu sebentar tentunya.
Tapi suasananya, bahkan hawa dinginnya tak sedkit pun berubah.

"Ayo! kenapa kau diam disitu?" tanteku membuyarkan lamunanku.

Lamunanku tentang masa enatm tahun yang lalu

Bersama tante-tante dan sepupu-sepupu ku di suatu pagi yang cerah tepat di depan sebuah istal kuda, kami bermain air sembari tertawa riang sampai fajar benar-benar tersenyum membalas keriangan kami.

kenangan yang cukup unik dan tak terlupakan.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Di dalamnya aku di sambut dengan orang-orang yang kebanyakn sudah terlupakan karena sudah lama tak bersua. kecuali seorang anak laki-laki yang gak kan mungkin ku lupakan karena sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, sebut saja Andrian dan seorang Nenek yang wajahnya memang selalu kuingat.

"Ini Dian?Wah sudah besar rupanya?kelas berapa kau Nak?" tanya seorang wanita yang adalah tanteku.
"Kelas dua SMA," jawabku sembari mengumbar senyum padanya.
"Sama dong kayak DImas. Dimas juga kelas dua SMA."

* * *

Perbincangan hangat pun terjadi termasuk tujuan kedatangan kami.
aku hanya duduk mendengarkan orang-orang yang berbicara dalam bahsa daerah yang tak begitu aku kuasai.
Sampai pada akhirnya, makan siang telah tersedia.
Meski sebetulnya aku sudah makan sebelumnya, tapi karena sudah disediakan ya kumakanlah walau tak banyak.
Ku tuang sedikit nasi dan hidangan lain yang tersedia.
Stelah itu ku balikan badanku berharap ada sebuah tempat yang nyaman untuk makan.
Mataku memandang ke seluruh penjuru ruang. Namun tak kutemui sebuah kursi kosong atau sebuah tempat yang nyaman.

Tiba-tiba sebuah kursi kosong di sodorkan kepadaku.
"Terima kasih!" ujarku pada pria yang memberikanku kuris itu,yang dia balas dengan senyumannya.

Aku duduk dan memakan makananku. Aku menengokan wajahku kebelakang.

Ku temukan sepasang mata yang mengintai gerak-gerikku dari tadi. Ku balas tatapan tajam itu dengan sebuah tatapan namun tak ada ekspresi yang kutangkap dari wajahnya layaknya seseorang yang sedang tertangkap. Aku pun kembali melanjutkan makanku.

* * *

"Kamu masih inget gak sama dia?" tanya tante yang tadi yang aku lupa siapa namanya.

aku hanya nyengir lantas menggelengkan kepala.

"Kenalan dulu kalo gitu. Ini Dimas. Dimas, ini Dian," tante itu mengenalkanku pada pria yang tadi memberikanku kursi.

"Dimas!"ujarnya sambil menyodorkan tanganya ke hadapanku.

"Dian!" jawabku sambil menjabat tangannya.

aku sadar dia menatapku dengan tatapan yang sungguh berbeda dari orang kebanyakan.

* * *

Leave a Reply